Kamis, 21 Desember 2017

Ketakutan Anak Terhadap Matematika

Proses belajar yang benar sejatinya memerhatikan tahap perkembangan anak. Perkembangan anak berpengaruh sejauh mana kesiapan mental dan emosional serta motorik anak. Piaget membagi perkembangan anak menjadi empat tahap: Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun), periode praoperasional (usia 2–7 tahun), periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun), dan periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa).
Dalam pembelajaran matematika yang umum terjadi adalah anak tidak mendapat kesempatan belajar secara konkrit. Yang dimaksud dengan pembelajaran konkrit adalah anak menggunakan benda-benda konkrit, yang bisa dimanipulasi dengan tangan, dipegang, dilihat, dirasakan, untuk memahami konsep banyak atau sedikit. Anak, biasanya, langsung dikenalkan dengan angka. Mulai angka 1,2,3, satuan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Angka adalah simbol dan sifatnya abstrak. Untuk memahami angka, anak terlebih dahulu perlu mengkonstruksi pemahaman menggunakan benda konkrit. Cara ini yang dulu digunakan para orangtua mengajar anak-anak mengenal jumlah dan angka. Namun sayangnya cara ini, saat ini, sudah jarang digunakan. Anak langsung diajari angka, tanpa melewati proses belajar konkrit.
Untuk bisa membuat anak jago matematika biasanya orangtua akan mengirim anak ke kursus matematika. Dari pengamatan saya, banyak kursus yang hanya menerapkan prinsip drilling, anak diberi tugas yang (sangat) banyak dengan prinsip pengulangan agar bisa menghitung cepat. Namun bila anak diberi soal cerita dan perlu mengerti maksud cerita untuk bisa melakukan kalkulasi matematis biasanya anak mengalami kesulitan. Anak juga biasanya tidak bisa merasakan berapa banyak selisih antara satu dan sepuluh, atau sepuluh dan dua puluh. Benar mereka tahu bahwa sepuluh lebih besar dari satu. Namun berapa bedanya, selisihnya, banyaknya, mereka tidak bisa merasakannya. Ini semua karena konstruksi pemahaman anak tidak berdasar proses belajar konkrit.
Kendala lain muncul saat anak yang belum fasih penjumlahan tiba-tiba diajari tabel perkalian. Ini juga satu kesalahan fatal. Perkalian adalah bentuk lain dari penjumlahan berulang. Lemah di penjumlahan membuat anak sulit menguasai perkalian.Belum lagi bila orangtua menuntut anaknya pintar matematika seperti anak temannya, atau menguasai materi yang sebenarnya belum waktunya dipelajari dan dikuasai si anak. 
Kendala beruntun ini akhirnya membuat anak merasa matematika sulit, tidak menyenangkan, menakutkan, dan perlu dihindari sebisa mungkin. Dan ini akan terus terbawa hingga dewasa. Orangtua, tanpa tahu duduk masalah yang sebenarnya, berusaha membantu anak mengatasi masalah dengan meminta atau mengharuskan anak belajar lebih keras, lebih lama, les matematika dengan guru berbeda. Ada juga orangtua yang menggunakan cara yang keras dalam upaya membuat anaknya pintar matematika, misalnya memarahi, mengancam, atau menghukum. Anak bukannya menjadi lebih berkembang justru menjadi semakin trauma dan tidak suka matematika. Anak menghubungkan belajar matematika atau matematika itu sendiri dengan penderitaan (pain), rasa sakit, tidak nyaman.
Faktor lain yang membuat anak tidak suka matematika adalah karena cara mengajar guru yang kurang menghargai keunikan dan kecepatan belajar anak. Ada guru yang menuntut anak menguasai bahan ajar dengan cepat. Bila anak agak lambat biasanya guru akan menegur atau memberi label anak bodoh. Ada juga guru yang karena sikapnya, disengaja atau tidak, membuat anak malu, di dalam kelas, karena tidak bisa mengerjakan soal. Semua ini memberi kontribusi pada ketidaknyamanan anak terhadap pelajaran matematika.
Solusi untuk masalah ini adalah pertama, emosi negatif yang berhubungan dengan matematika harus dihilangkan total. Kedua, kecakapan dasar matematika seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian perlu diperkuat. Bila perlu, anak tinggal kelas untuk mendapat kesempatan memperbaiki fondasi matematikanya. Dan ketiga, yang juga sangat penting adalah pendampingan, dukungan, kasih sayang dari orangtua pada anak.

Kecerdasan Matematika Anak Sejak di Kandungan



Setia ibu pasti menginginkan bayi yang dikandungnya akan berkembang menjadi anak yang pintar dan cerdas, apalagi memiliki kecerdasan eksak terkhusus di bidang matematika. Kemampuan berhitung dan matematika memang bukan standar tingkat kecerdasan anak. Hanya saja, penelitian terbaru mengatakan bahwa kemampuan anak untuk berhitung pada pelajaran matematika sudah ditentukan sejak dalam kandungan.   


Penelitian yang dilakukan oleh VU University Medical Center di Amsterdam, Belanda mengatakan bahwa ibu hamil yang kekurangan hormon thyroxine memiliki risiko dua kali lebih besar melahirkan anak yang tak pandai matematika. Pasalnya, hormon thyroxine merupakan factor dalam pembentukan otak janin. Perkembangan otak janin sangat berpengaruh atas kepintarann atau kecerdasan sang bayi.
Penelitian Dr Finken dilakukan kepada 1.200 anak semenjak mereka berusia 12 minggu hingga ketika mereka mulai masuk sekolah. Dr Finken mengukur kadar thyroxine yang ada di dalam tubuh ibu hamil dan dibandingkan dengan hasil tes matematika dan bahasa anak ketika berumur 5 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa 90 persen anak dari ibu hamil yang memiliki kadar thyroxine rendah masuk ke dalam kategori anak-anak yang mendapat nlai rendah di tes matematika. Selain itu mereka juga memiliki keterlambatan dalam memahami pelajaran berhitung dan aritmatika lainnya.

            Yang menarik, hormon ini tidak berpengaruh pada kemampuan anak dalam tes kata-kata dan bahasa. Dr Finken mengatakan bahwa kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh dua faktor. Yang pertama, kemampuan matematika berkaitan langsung dengan kondisi hormon thyroxine pada ibu hamil. Kedua, kemampuan bahasa tidak ditentukan oleh hormon, dalam artian tidak termasuk dalam bagian yang dibentuk ketika janin membentuk otak. Dr Finken mengatakan bahwa kemampuan bahasa anak lebih erat kaitannya dengan lingkungan sekitar dan keluarga.

            Sementara itu Profesor John Lazarus, pakar hormon dari British Thyroid Foundation mengatakan bahwa banyak anak kekurangan thyroxine karena janin tidak bisa memproduksi sendiri hormon tersebut. Pasokan thyrocxine didapat bayi dari apa yang dokonsumsi ibu, atinya janin sangat bergantung pada apa yang dimakan ibu untuk dapat menyerap nutrisi yang mereka butuhkan. yang didapatkan dengan mengkonsumsi susu, daging, serta ikan.


Mathematics Anxiety

Matematika merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem pendidikan di dunia. Negara yang mengabaikan pendidikan matematika sebagai prioritas utama akan tertinggal dari kemajuan segala bidang terutama sains dan teknologi. Maka tak heran jika peradaban manusia berubah dengan pesat ditunjang oleh partisipasi matematika yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan, diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Atas dasar itu, pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta dididk sejak bangku SD sampai perguruan tinggi untuk membekali peserta didik dengan kemampuyan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan kemampuan bekerja sama.
 Tapi kenyataannya, dalam perkembangannya pelajaran Matematika ini malah banyak menimbulkan masalah dan perlu mendapat perhatian serius dari para Ahli dan Pendidik. Berdasarkan dari hasil penelitian di Indonesia ( Kompas, 2001), ditemukan bahwa tingkat penguasaan peserta didik dalam matematika untuk semua jenjang pendidikan masih sekitar 34%. Ini sangat memprihatinkan. Anggapan masyarakat khususnya dikalangan pelajar matematika masih merupakan pelajaran yang sulit bahkan sangat ditakuti oleh sebagian besar pelajar. Mereka juga menganggap matematika sebagai momok, ilmu yang kering dan teoritis, penuh dengan lambang-lambang, rumus-rumus yang sulit dan sangat membingungkan.




Kata "phobia" berasal dari istilah Yunani "phobos" yang berarti lari, takut dan panik, takut hebat. Istilah ini memang digunakan sejak zaman Hippocrates. Phobia adalah ketakutan yang luar biasa dan tanpa alasan terhadap sebuah obyek atau situasi yang tidak masuk akal. Pengidap phobia merasa tidak nyaman dan menghindari objek yang ditakutinya. Terkadang juga bisa menghambat aktivitasnya. Sesuai dengan namanya Phobia Matematika, orang yang mengidap phobia ini memiliki ketakutan, ketidaknyamanan, tidak menyukai, dan ingin menghindari segala persoalan yang berhubungan dengan matematika. Keadaan takut terhadap matematika ini juga disebut Mathematics Anxiety.

Phobia disebabkan karena pernah mengalami ketakutan yang hebat atau pengalaman pribadi yang disertai perasaan malu atau bersalah yang semuanya kemudian ditekan ke dalam alam bawah sadar. Peristiwa traumatis sejak kecil dianggap sebagai salah satu kemungkinan penyebab terjadinya phobia. Imajinasi yang berlebihan dapat juga menyebabkan phobia. Dalam dunia pendidikan phobia matematika dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Takut dalam hitungan
2. Susah menghafal
3. Takut maju di depan kelas
4. Takut dalam Ujian Nasional
5. Takut orang tuanya dipanggil

            Ternyata perasaan tidak suka yang para pelajar miliki terhadap pelajaran Matematika bisa menyebabkan tubuh sakit secara fisik. Menurut para peneliti, perasaan tidak nyaman yang dirasakan oleh mereka yang menderita phobia Matematika ternyata hampir mirip dengan rasa sakit secara fisik. Menurut Medical Xpress, otak orang yang tidak menyukai Matematika ternyata menunjukkan respon yang hampir sama dengan respon otak saat seseorang meninju mereka di wajah. Atau mencubit lengan mereka atau menjambak rambut mereka.
Para peneliti dari Universitas Chicago menggali lebih dalam terhadap mathophobia (phobia terhadap Matematika). Mereka menggunakan scan otak terhadap para penderita phobia ini dan menemukan bahwa hanya dengan memikirkan untuk menyelesaikan soal Matematika bisa menyebabkan rasa sakit fisik. Aktivasi otak tidak terjadi selama mereka mengerjakan soal Matematika, menandakan bahwa masalahnya bukanlah matematika itu sendiri, tapi perasaan tidak suka yang muncul sebelumnya yang menjadi penyebab rasa sakit.” Rasa takut terhadap Matematika memicu luka di posterior insula, yang terdapat bagian dalam otak, tepat di atas telinga. Bagian otak ini yang mengenali ancaman rasa sakit. Rasa gelisah secara umum sering menghalangi kinerja kita

Matematika Zaman Kejayaan Islam

Perkembangan ilmu matematika tidak terlepas dari hasil penemuan para ilmuwan matematika muslim dunia. Mereka menunjukkan eksistensinya dala...